Awal cerita Nama Sumur Mangkung atau Sumur Jalak Tunda berasal dari nama pemilik sumur itu sendiri yang bernama Bah Mangkung diambil dari kata “JANGKUNG” dalam Bahasa Sunda, sedangkan bah mangkung sendiri nama aslinya bah salim bin kaji yang mempunyai fostur tubuh tinggi (JANGKUNG, Bahasa sunda), sumur tersebut dibuat pada tahun 1925 oleh masyrakat sekitar yang pembuatannya di pimpin langsung oleh bah salim, dengan waktu pembuatan sekitar 1 (satu) minggu dengan teknik penentuan mata air pada saat itu menggunakan alat sejenis Tampir dalam Bahasa masyrakat sekitar disebut nyiru, dengan cara di lemparkan dan apabila tampir tersebut berhenti maka disitulah mata air tersebut akan di gali.
Konon berdasarkan cerita dan penelusuran ke bergai sumber baik dari tokoh masyarakat sekitar dan luar daerah, bahwa sumur tersebut pernah dijadiakan tempat mengabil air untuk berwudhu rombongan para shech yang sedang melukan perjalan pulang menuju pulo bata, diantaranya adalah sheh qurotui ain pulo bata, seh gentong, sheh bencoy maleber dan sheh kupo pada waktu malam jumat kliwon.Maka untuk mengenang kejadian tersebut sehingga sampai sekarang pada malam jumat kliwon diadakan tawasulan oleh masyrakat seitar dan luar daerah.
Adapun untuk silsilah keluarga pemilik sumur Bah Mangpung adalah
1. Bah salim mempuanyai istri bernama enong dan mempunyai keturunan
Sebagai berikut :
1. Enar
2. Acip
3. Kawis
4. Cante
5. Hj kasti
6. H wartaya
Demikian sejarah asal usul Sumur Magpung atau Sumur Jalak Tunda ini disusun sebagai Catatan Sejarah Perkembangan Desa Kalibuaya dari masa ke masa dan merupakan khasanah budaya sebagai salah satu ciri bangsa yang besar serta gambaran awal dengan segala kekurangan dan kesederhanaan sebagai bahan perkembangan Pemerintahan Desa Kalibuaya selanjutnya. Semoga bermanfaat……
